Kamis, 16 Juni 2011

36 Pati Polri Berpangkat Brigjen Mengikuti Assessment Center. Rabu, 16 Februari 2011 @ 14:12:03

36 Pati Polri Berpangkat Brigjen Mengikuti Assessment Center. Oleh : Zulkarnain. Pada hari Rabu, 16 Februari 2011 ini kembali lagi SSDM Polri khususnya Biro Pembinaan Karier Polri melakukan assessment center (AC) kepada perwira tinggi khususnya berpangkat Berigadir Jenderal Polisi baik yang berada di dalam struktur organisasi Polri maupun di luar struktur Polri. AC kali ini sebagai gelombang yang ke dua dari rangkaian AC terhadap Pati Polri. Sesuai dengan daftar absen 36 Pati Polri tersebut adalah : Drs. Heri Haryanto, Drs. Suseno Djahri, M.M., Drs. Sintersins Mamadoa, Ricky Herbert Parulian Sitohang, S.H., Drs. Arief Wicaksono Sudiutomo, Drs. Muhammad Zulkarnain, Drs. Arkian. lubis, S.H., Drs. Dwi Priyatno, Drs. Dedy Fauzi Elhakim, Drs. Ach,ad Hidayat, Drs. Ike Edwin, S.H., M.H., Drs. Bekti Suhartono, Drs. Muhammad Zulkarnain, M.M., M.H., Basaria Panjaitan, S.H., M.H., Drs. Zainuri Lubis, Drs. Boy Salamuddin, Drs. Tugas Dwi Apriyanto, S.H., Drs. Isdiyono, Drs. Albertus Julius Benny Mokalo, S.H., Tri Priyo, S.H., Drs. Heru Winarko, S.H., Drs. Anang Iskandar, S.H., M.H., Bontor Hutapea, S.H., Drs. Prasta Wahyu Hidayat, S.H., M.M., M. Hum., Drs. Vincentius Sabudiyono, M.M., Drs. Drajat Tirtayasa, Drs. M. Tito Karnavian, MA., Drs. Burhanuddin Andi, Drs. M. Rum Murkal, Drs. Raden Budi Winarso, Drs. Sadar Sembayang, Drs. Machfud Arifin, S.H., Drs. Andayono, Drs. Erlan Lukman Nulhakim, M.M., Drs. Unggung Cahyono, Drs. Syafruddin, M.Si. Para Pati Polri tersebut di atas diantaranya adalah sedang menjabat Kapolda seperti Kapolda Bangka Belitung, Kalimatan Selatan, Kepulauan Riau dan Bengkulu. Sedangkan yang lain masih sedang menjabat baik sebagai Direktur, Kepala Biro dan Assisten Deputy di jajaran organisasi Polri dan di luar Polri. Di lingkungan Polri sebagaimana diketahui bahwa metode AC ini sebagai salah satu persyaratan dari pada Reformasi Birokrasi Polri selama ini yang telah dijalankan sejak tahun 1998 sedangkan AC sudah di jalankan setidaknya dua tahun belakangan dengan bekerja sama sebelumnya dengan Gaia Solution dan saat ini dengan Pacific Century Consulting (PCC) Singapore yang memang telah lama bergerak dibidang sumber daya manusia. Dalam penjelasannya Kabag Uji Kompetensi Biro Pembinaan Karier SSDM Polri Kombes Pol. Drs. Untung Leksono mengatakan dalam setiap sosialisasi sebelum AC dimulai bahwa proses AC ini adalah sebagai sebuah metode bagi kandidate atau assesse atau calon untuk menunjukkan perilaku yang diperlukan untuk suatu posisi atau jabatan yang akan datang. Jadi ini sebagai sebuah kesempatan bagi para kandidate untuk menunjukkan kemampuan mereka khususnya kompetensi manajerial sebagai mana yang harus dimiliki oleh para manajer senior di lingkungan Polri. Disatu sisi juga sebagai sarana untuk mengukur potensi seseorang dengan cara memprediksi perilaku masa depan melalui penggunaan simulasi perilaku yang dapat mengukur kepampuan peserta dalam menghadapi tanggung jawab suatu jabatan. Dengan kata lain Assessment Center ini sebagai salah satu cara Polri untuk meningkatkan sumber daya manusia di lingkungan Polri khususnya bagi manajer senior atau para pimpinan di lingkungan Polri yang dihadapkan dengan tantangan kekinian seperti misalnya gejala konflik yang sering terjadi di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Metode yang digunakan dalam proses AC kali ini atau terhadap para Pati Polri ini adalah metode Movit dan In-Tray atau hanya dua cara dari berbagai cara atau tool yang ada, tetapi cara ini sudah memenuhi standart dari pada suatu AC yaitu menggunakan multi tool sebagai upaya mengurangi penyimpangan dan multi assessor. Sedangkan para assessornya tentu lebih dari dua yaitu : KBP. Drs. Untung Leksono (Kabag Penkompetensi SSDM Polri) sekaligus sebagai Ketua Team dan koordinator assessor, KBP. Drs. Oerip Soebagyo (Penyidik Utama Bareskrim Polri), KBP. Drs. Hengke Kaluara (Sesro Paminal Polri), KBP. Drs. Djoko Prastowo (Kabag Infopers SSDM Polri), KBP. Drs. Bambang Ghiri (Ses Pusku Polri), KBP. Drs. Tri Nugroho (Analis Kebijakan Bidang Binkar Polri), KBP. Drs. Zulkarnain (Kabag Renmin Divhumas Polri, KBP. Drs. Rahmad Suparlan (Kabag Psipol Biro Psi Polri), KBP. Drs. Eko Indra Hery (Gadik Utama PTIK), KBP. Drs. E. Permadi (Kabag Mutjab SSDM Polri), KBP. Drs. Lotharia Latif (Kaden PJR Korlantas Polri), KBP. Drs. Yoyok Sri Nurcahyo (Karo Renbang Polda Sumsel), AKBP Drs. Arief Nurcahyo (Kabag Psi Polda Metro Jaya), AKBP Drs. I Ketut Suardana (Kasubbag Monev Bagkompeten SSDM Polri), AKBP Drs. Muchlis (Kasubbag Renprog Bagkompoten SSDM Polri), AKBP Drs. Novian Pranata, M.Psi. (Kasubbag Kompeten Bagkompoten SSDM Polri), AKBP. Dra. Eka Sariana (Kasubbag Seleksi Bag Psi Polri), AKBP. Drs. Solichin (Kasubbidpidum Divkum Polri), AKBP Dra. Dien Irhastini (Seslem Sepolwan Polri), Kompol Riny Wowor, M.Psi (Paur Subbag Psi SSDM Polri), AKP Aryuni, M.Psi (Pamin Subbagkompeten SSDM Polri). Dalam AC ini yang akan dilihat atau dipotret masih sama dengan proses AC sebelumnya pada dua belas profil kompetensi di lingkungan manajer senior Polri, yaitu : 1) Lead by example. 2) Passion and commitment. 3) Act strategically. 4) Integrity. 5) Foresight. 6) Inovation 7) Developing others. 8) Maintaining positive human relationship. 9) Building trust. 10) Motivating others. 11) Influencing. 12) Communication. Zulkarnain.

dendam terhadap polisi

Nasional
Alasan Pelaku Penembak Polisi di Poso
Para pelaku dendam karena tindakan kepolisian yang menangkap pimpinan mereka.
Selasa, 14 Juni 2011, 17:40 WIB
Muhammad Hasits, Fadila Fikriani Armadita
VIVAnews - Polri mengungkap alasan pelaku penembakan terhadap tiga orang polisi di depan Bank BCA Poso, Sulawesi Tengah dua bulan lalu.
"Adanya rasa dendam mereka kepada polri," kata Kepala Divisi Humas, Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Jakarta, Selasa, 14 Juni 2011.

Anton menambahkan, para pelaku selama ini merasa dendam karena tindakan kepolisian yang menangkap pimpinan mereka seperti Dr Azahari, Dulmatin, dan Urwah. Karena itulah, para pelaku itu melakukan aksi nekat dengan menembaki polisi. Selain unsur dendam, ada unsur lain yang melatarbelakangi.

"Kedua, radikal yang mereka pahami, ini juga didapat dari kelompok Jamaah Islamiyah yang pernah masuk ke poso," ujar Anton.

Dia menjelaskan, dalam kelompok Jamaah Islamiyah, wajib hukumnya di Indonesia mengangkat senjata. Selain itu, adanya rasa percaya diri baik kelompok maupun perorangan. "Mereka ada dua kali pelatihan paramiliter," jelas Anton.

Latihan itu dilakukan pertama kali  di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso pada 2010. Kedua, mereka melakukan latihan pada 15-18 Mei 2011. "Dan pada tanggal 25 Mei mereka menembak," terang Anton.

Polisi menduga, lima orang yang tertangkap di Poso tersebut mempunyai hubungan dengan teroris Solo, Cirebon, dan Kutai. "Mereka melakukan latihan militer, membuat dan merakit bom di Poso, Sulteng," ucapnya.

Selain itu, tujuan melakukan penembakan untuk mengumpulkan senjata serta menyusun kekuatan. Sasarannya tak lain adalah petugas-petugas kepolisian.

Setelah mengumpulkan senjata, mereka akan melakukan penyusunan kekuatan untuk melakukan amaliyah. "Polisi di Palu jadi sasaran karena mayoritas polisi di lapangan membawa senjata laras panjang," kata Anton.

Selain menangkap lima orang, polisi juga menyita empat pucuk senjata laras panjang jenis M16, 2 senjata V2 Sabhara milik polisi yang ketika itu dirampas, 51 amunisi kaliber 5,56 milimeter, dan 17 butir amunisi. Lima orang yang tertangkap adalah; Aryanto Haluta, Rafli, Anang Muhtadin, Maman Susanto, dan Ali Miftah. (umi)













 
 


haiiiii brow..
bagi kalian yang pingin tau smua yang unik,kreatif,aktif,keren,disinalah tempatnya.......
mulai dari hot-hot,cool abis.